Program & Rencana Kegiatan LAPAKKSS Januari–Desember 2027

LAPAKBUDAYA • Rabu, 29 April 2026

Program & Rencana Kegiatan LAPAKKSS April–Desember 2026

LAPAKBUDAYA • Rabu, 29 April 2026

Phinisi dan Sandeq: Warisan Bahari Sulawesi Selatan yang Mendunia

LAPAKBUDAYA • Rabu, 29 April 2026

Gerak yang Bercerita: Mengenal Tari Tradisional Sulawesi Selatan

LAPAKBUDAYA • Rabu, 29 April 2026

Menjaga Nafas Budaya Sulawesi Selatan: Peran LAPAKKSS di Tengah Arus Modernisasi

LAPAKBUDAYA • Rabu, 29 April 2026

Struktur Organisasi LAPAKKSS 2026-2030

LAPAKBUDAYA • Rabu, 29 April 2026

Program Januari 2027 – Desember 2027

Memasuki tahun kedua, LAPAKKSS melanjutkan dan memperluas komitmennya dalam membangun ekosistem seni budaya Sulawesi Selatan yang berkelanjutan. Program 2027 dirancang lebih inklusif, menjangkau lebih banyak daerah, dan memperdalam kolaborasi lintas komunitas — dari pelosok kabupaten hingga panggung internasional.

15 Program & Kegiatan Jan–Des 2027
12 Bulan pelaksanaan penuh
6 Kabupaten/Kota sasaran

Kalender Program Januari – Desember 2027

Januari2027
Konsolidasi & Peluncuran Agenda LAPAKKSS 2027
Rapat konsolidasi internal dan peluncuran resmi agenda tahunan 2027 bersama seluruh mitra strategis lembaga. Acara mencakup evaluasi capaian 2026, penandatanganan nota kerja sama baru, serta pemaparan peta jalan program setahun penuh kepada publik dan media. Berlokasi di Makassar.
Peluncuran Makassar Undangan & Media
Februari2027
Kelas Tari Tradisional Terbuka — Batch 1/2027
Program kelas tari rutin selama sebulan penuh untuk masyarakat umum. Empat kelas tersedia: Tari Pakarena (Makassar), Tari Pa’gellu (Toraja), Tari Padduppa (Bugis), dan Tari Kreasi Kontemporer. Setiap kelas diampu penari senior yang berpengalaman. Berlangsung setiap akhir pekan di Sanggar LAPAKKSS, Makassar.
Kelas Seni Makassar Terbuka untuk Umum
Program Edukasi Budaya di Sekolah — Batch 2
Perluasan program edukasi ke 15 sekolah dasar dan menengah di Kabupaten Gowa, Takalar, dan Maros. Tim seniman LAPAKKSS menghadirkan pertunjukan, pelatihan singkat, dan materi pembelajaran budaya lokal yang disesuaikan dengan kurikulum Merdeka Belajar.
Edukasi Gowa · Takalar · Maros Gratis
Maret2027
Pameran Foto & Arsip: Warisan Budaya Sulsel dalam Lensa
Pameran arsip fotografi dan dokumentasi audiovisual yang mengumpulkan koleksi dari komunitas, fotografer lokal, dan arsip lembaga budaya Sulawesi Selatan. Lebih dari 200 foto dan rekaman video ditampilkan, mencakup ritual adat, pertunjukan seni, dan kehidupan sehari-hari empat suku besar dari dekade 1970-an hingga kini. Venue: Galeri Kota Makassar.
Pameran Makassar Terbuka untuk Umum
April2027
Lokakarya Tenun Tradisional Sulsel — Seri 2
Kelanjutan dari seri 2026, kali ini memperluas cakupan ke tiga tradisi tenun: Lipa’ Sabbe (Bugis-Wajo), kain tenun Toraja, dan sarung sutera Mandar. Program intensif 4 hari untuk peserta lanjutan, dengan pelatihan teknik pewarnaan alami menggunakan bahan-bahan lokal Sulawesi Selatan.
Lokakarya Wajo & Polman
Forum Riset Budaya LAPAKKSS 2027
Seminar akademik satu hari yang menghadirkan peneliti dari Universitas Hasanuddin, UNISMUH, dan lembaga riset budaya daerah untuk mempresentasikan hasil penelitian terbaru seputar kebudayaan Sulawesi Selatan. Terbuka bagi mahasiswa dan akademisi yang ingin berdialog langsung dengan para peneliti.
Seminar Makassar Gratis
Mei2027
Festival Kuliner & Cerita Rakyat Sulawesi Selatan
Festival dua hari yang memadukan kekayaan kuliner tradisional dan tradisi lisan (sastra lisan, dongeng, dan syair) empat suku Sulawesi Selatan. Peserta dapat mencicipi makanan tradisional langsung dari tangan pengolahnya sambil menikmati pertunjukan bercerita (storytelling) dari maestro sastra lisan. Hadir pula workshop memasak makanan tradisional yang dipandu juru masak senior. Venue: Pantai Losari, Makassar.
Festival Makassar Terbuka untuk Umum
Juni2027
Residensi Seniman LAPAKKSS — Batch I/2027
Program residensi intensif 21 hari untuk 10 seniman muda terpilih dari seluruh Indonesia dengan fokus pada ekspresi budaya Sulawesi Selatan. Tahun ini residensi mencakup komponen kunjungan lapangan ke komunitas adat di Tana Toraja dan Bulukumba sebagai sumber inspirasi langsung bagi karya yang akan diproduksi. Pertunjukan karya hasil residensi digelar terbuka di akhir program.
Residensi Makassar · Toraja · Bulukumba
Juli2027
Workshop Musik Tradisional — Mengenal Alat Musik Sulsel
Pelatihan bermain alat musik tradisional untuk pemula dan peminat: gandrang, pui-pui, kecaping, dan talindo. Program berlangsung selama dua minggu, setiap hari Sabtu dan Minggu. Narasumber adalah musisi tradisional aktif yang masih menjaga kelestarian alat musik leluhur. Berlangsung di Sanggar LAPAKKSS, Makassar.
Workshop Makassar Terbuka untuk Umum
Misi Budaya LAPAKKSS ke Luar Sulsel
Tim seniman LAPAKKSS melakukan misi budaya ke Jakarta dan Yogyakarta untuk memperkenalkan kekayaan seni budaya Sulawesi Selatan kepada audiens nasional. Agenda meliputi pertunjukan seni, pameran kerajinan, dan dialog budaya bersama lembaga seni terkemuka di dua kota tersebut.
Misi Budaya Jakarta & Yogyakarta
Agustus2027
Karnaval Seni Budaya HUT RI ke-82 — Sulsel Bergerak
Perayaan Hari Kemerdekaan RI dengan karnaval seni budaya yang tahun ini diperluas ke tiga kota: Makassar, Parepare, dan Palopo. Melibatkan lebih dari 50 komunitas seni dan ribuan peserta dengan kostum adat, tari jalanan, drum band tradisional, dan atraksi budaya yang meriah. Kolaborasi dengan pemerintah daerah masing-masing kota.
Karnaval Makassar · Parepare · Palopo Partisipasi Terbuka
September2027
Dialog Budaya Lintas Generasi — Seri 2
Forum diskusi terbuka yang kini memperluas format ke sesi panel dan breakout group. Tema 2027: “Industri Kreatif Berbasis Budaya: Peluang dan Tantangan di Era Pasca-Digital.” Menghadirkan pembicara dari kalangan budayawan, pelaku industri kreatif, dan pembuat kebijakan kebudayaan.
Dialog Makassar Gratis
Workshop Dokumentasi Warisan Budaya — Seri 2
Edisi lanjutan dari seri 2026 dengan fokus pada teknik dokumentasi tradisi lisan: merekam, mentranskrip, dan mengarsipkan cerita rakyat, syair, dan pantun dalam format digital yang terstandardisasi. Peserta mendapat akses ke platform arsip budaya digital yang dikembangkan LAPAKKSS bersama mitra perguruan tinggi.
Workshop Makassar
Oktober2027
Pameran Seni Rupa Kontemporer Berbasis Tradisi Sulsel
Pameran seni rupa selama 14 hari yang menampilkan karya seniman kontemporer Sulawesi Selatan yang berakar pada estetika tradisi lokal. Lebih dari 60 karya dari 30 seniman — meliputi lukisan, instalasi, patung, dan seni media — dipamerkan dalam kuratorialyang mengeksplorasi dialog antara masa lalu dan masa kini. Hadir juga program artist talk, tur kuratorial, dan kelas seni terbuka. Venue: Gedung Kesenian Sulawesi Selatan, Makassar.
Pameran Makassar Terbuka untuk Umum
November2027
Festival Tari Tradisional Sulawesi Selatan 2027 — Edisi Internasional
Edisi ketiga festival tari yang kini mengundang delegasi internasional dari Malaysia, Filipina, dan Brunei untuk tampil berdampingan dengan sanggar-sanggar tari dari seluruh Sulawesi Selatan. Empat hari festival menampilkan lebih dari 60 kelompok tari dalam kompetisi, gala pertunjukan, dan forum pertukaran budaya. Hadir pula master class eksklusif bersama koreografer tari internasional.
Festival Makassar Kompetisi & Terbuka
Desember2027

Ikut Serta dalam Program LAPAKKSS 2027

Daftarkan diri sebagai peserta, relawan, atau mitra program. Tersedia juga jalur pendaftaran untuk komunitas dan institusi yang ingin berkolaborasi sepanjang tahun 2027.

Daftar Sekarang

Komentar (0)

Program April 2026 – Desember 2026

LAPAKKSS menetapkan sembilan bulan terakhir tahun 2026 sebagai periode peluncuran program strategis pertama lembaga. Dari lokakarya seni hingga festival budaya berskala besar, setiap kegiatan dirancang untuk memperkuat ekosistem seni budaya Sulawesi Selatan sekaligus membuka ruang partisipasi seluas-luasnya bagi masyarakat.

12 Program & Kegiatan Apr–Des 2026
9 Bulan pelaksanaan aktif
4 Kabupaten/Kota sasaran

Kalender Program April – Desember 2026

April2026
Peluncuran Program LAPAKKSS 2026 — Kick-off Musim Budaya
Acara pembukaan resmi rangkaian program LAPAKKSS 2026. Peluncuran mencakup pemaparan rencana kegiatan setahun penuh, penandatanganan nota kerja sama dengan mitra institusi, serta pertunjukan seni pembuka musim dari seniman undangan. Berlokasi di Makassar Cultural Center.
Peluncuran Makassar Terbuka untuk Umum
Mei2026
Lokakarya Tenun Tradisional Sulsel — Seri 1
Program intensif 3 hari belajar menenun kain tradisional Bugis (Lipa’ Sabbe) bersama maestro tenun dari Sengkang, Kabupaten Wajo. Peserta terbatas 20 orang per sesi, tersedia dua sesi paralel. Cocok untuk pemula dan peminat tekstil budaya.
Lokakarya Wajo & Makassar
Program Edukasi Budaya di Sekolah — Batch 1
LAPAKKSS mengirim tim seniman ke 10 sekolah menengah di Makassar dan Gowa untuk memperkenalkan seni tari, musik tradisional, dan cerita rakyat Sulawesi Selatan. Program berlangsung sepanjang bulan Mei.
Edukasi Makassar & Gowa Gratis
Juni2026
Festival Musik Tradisional Sulawesi Selatan 2026
Festival dua hari yang menampilkan pertunjukan alat musik tradisional empat suku: gandrang, pui-pui, talindo, dan kecaping. Hadir kelompok musik dari berbagai kabupaten, serta sesi talkshow bersama musisi senior tentang pelestarian alat musik tradisional di era digital. Venue: Benteng Somba Opu, Makassar.
Festival Makassar Terbuka untuk Umum
Juli2026
Residensi Seniman LAPAKKSS — Batch I/2026
Program tinggal bersama selama 21 hari bagi 8 seniman muda terpilih dari berbagai disiplin (tari, musik, sastra, seni rupa). Peserta berkarya bersama maestro senior, mengikuti kelas intensif, dan pada akhir program mempertunjukkan karya hasil residensi kepada publik. Lokasi: Sanggar LAPAKKSS, Makassar.
Residensi Makassar
Agustus2026
Karnaval Seni Budaya HUT RI ke-81 — Sulsel Merayakan
Dalam rangka Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, LAPAKKSS menggelar karnaval seni budaya yang menampilkan kostum adat, atraksi tari jalanan, dan pameran kerajinan dari empat suku besar Sulawesi Selatan. Karnaval mengelilingi pusat kota Makassar dan terbuka untuk partisipasi komunitas.
Karnaval Makassar Partisipasi Terbuka
September2026
Dialog Budaya Lintas Generasi — Seri 1
Forum diskusi terbuka yang mempertemukan budayawan senior dengan aktivis budaya generasi muda. Tema: “Relevansi Tradisi di Era Kecerdasan Buatan.” Diselenggarakan di Aula Universitas Hasanuddin, Makassar.
Dialog Makassar Gratis
Workshop Dokumentasi Warisan Budaya — Seri 1
Pelatihan teknik dokumentasi audio-visual warisan budaya bagi 30 peserta. Materi mencakup: fotografi budaya, perekaman suara tradisi lisan, dan pengelolaan arsip digital. Narasumber dari Arsip Nasional dan komunitas dokumenter lokal.
Workshop Makassar
Oktober2026
Pameran Seni Rupa & Kerajinan Tradisional Sulsel
Pameran selama 10 hari menampilkan lebih dari 150 karya seni dan kerajinan tradisional: ukiran Toraja, songket Bugis, tenun Mandar, dan ukiran Makassar. Tersedia booth penjualan langsung dari pengrajin, kelas demo kerajinan, dan sesi penilaian karya oleh kurator. Venue: Mal Ratu Indah, Makassar.
Pameran Makassar Terbuka untuk Umum
November2026
Festival Tari Tradisional Sulawesi Selatan 2026
Festival tiga hari menampilkan 40 sanggar tari dari seluruh Sulawesi Selatan dalam kompetisi dan pertunjukan non-kompetitif. Kategori: Tari Pakarena, Tari Pa’gellu, Tari Padduppa, Tari Kreasi Berbasis Tradisi, dan Tari Anak. Hadir juga kelas tari terbuka untuk masyarakat umum setiap pagi.
Festival Makassar Kompetisi & Terbuka
Desember2026

Ikut Serta dalam Program LAPAKKSS 2026

Daftarkan diri sebagai peserta, relawan, atau mitra program. Tersedia juga jalur pendaftaran untuk komunitas dan institusi yang ingin berkolaborasi.

Daftar Sekarang

Komentar (0)

Budaya 30 April 2026 • LAPAKBUDAYA Redaksi

Jauh sebelum GPS dan kompas digital, nenek moyang Sulawesi Selatan telah mengarungi samudra menggunakan kapal yang dibangun dengan kearifan, ketelitian, dan rasa hormat terhadap laut. Phinisi dan Sandeq bukan sekadar perahu — keduanya adalah ensiklopedia pengetahuan bahari yang diwariskan dari tangan ke tangan selama berabad-abad.

Bangsa Pelaut yang Sesungguhnya

Sulawesi Selatan dikenal sebagai tanah para pelaut ulung. Bukan hanya karena letaknya yang dikelilingi laut, tetapi karena masyarakatnya — terutama suku Bugis dan Mandar — telah membangun hubungan yang sangat dalam dengan lautan, menjadikannya bukan hanya sumber penghidupan tetapi juga pusat kebudayaan, spiritualitas, dan identitas.

Dari pesisir barat Mandar hingga pantai timur Bugis, tradisi perahu dan pelayaran telah membentuk cara hidup, bahasa, seni, dan ritual masyarakat pesisir Sulawesi Selatan sejak ribuan tahun silam. Dan di antara semua warisan bahari itu, dua perahu berdiri paling megah dalam ingatan sejarah: Phinisi dari Bugis dan Sandeq dari Mandar.

Abad ke-14 Tradisi pembuatan Kapal Phinisi telah ada sejak abad ke-14 Masehi
2017 UNESCO resmi mengakui Seni Pembuatan Kapal Phinisi sebagai Warisan Budaya Takbenda
7 Des Tanggal resmi pencatatan Phinisi di UNESCO: 7 Desember 2017
Tercepat Perahu Sandeq dikenal sebagai perahu cadik paling cepat di kepulauan Nusantara

Phinisi: Ketika Kayu Menjadi Seni dan Ilmu

Di Desa Tanjung Bira dan Ara, Kabupaten Bulukumba, suara ketukan palu dan bau kayu bitti yang menyengat masih mewarnai udara pagi. Di sinilah Phinisi lahir — bukan dari pabrik atau mesin modern, melainkan dari tangan para ahli kayu (punggawa) yang mewarisi ilmu pembuatan perahu secara turun-temurun tanpa cetak biru tertulis.

Kapal Phinisi memiliki keunikan yang membedakannya dari perahu manapun di dunia. Ia dibangun menggunakan sistem pasak — potongan kayu yang dipasang tanpa paku besi — namun mampu menahan hantaman badai di laut lepas. Rahasia kekuatannya terletak pada pemilihan kayu, pengetahuan tentang angin dan arus, serta ritual-ritual spiritual yang menyertai setiap tahap pembangunan.

“Membuat Phinisi bukan sekadar pekerjaan tukang kayu. Ia adalah tindakan spiritual. Setiap kapal yang lahir adalah anak dari laut, dan ia harus diperlakukan dengan penuh hormat.” — Tradisi lisan pengrajin Phinisi Bulukumba

Secara arsitektur, Phinisi dicirikan oleh dua tiang layar utama dengan tujuh helai layar yang masing-masing memiliki fungsi berbeda sesuai kondisi cuaca. Desain ini memungkinkan Phinisi untuk berlayar efisien baik di laut tenang maupun dalam kondisi angin kencang — fleksibilitas yang bahkan menginspirasi desainer perahu modern dari berbagai negara.

Seni Pembuatan Kapal Phinisi

Pada 7 Desember 2017, UNESCO secara resmi mencatatkan Seni Pembuatan Kapal Phinisi sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan — pengakuan atas kecerdasan teknik dan kekayaan budaya masyarakat Bugis Sulawesi Selatan di mata dunia internasional.

Sandeq: Kecepatan dari Ketulusan

Sementara Phinisi dikenal karena kemegahan dan ketangguhannya, Sandeq dari Mandar dikenal karena kecepatan dan keanggunannya. Perahu cadik berukuran kecil ini — dengan satu layar segi tiga yang menjulang tinggi — mampu membelah ombak dengan kecepatan yang sulit dipercaya dari perahu berukuran sekecil itu.

Para nelayan Mandar telah mengandalkan Sandeq selama berabad-abad untuk menangkap ikan di perairan barat Sulawesi Selatan. Namun Sandeq bukan hanya alat kerja — ia juga medium ekspresi keberanian dan kebebasan jiwa pelaut Mandar. Setiap tahun, festival Sandeq Race menarik perhatian wisatawan dari berbagai penjuru sebagai ajang balap perahu tradisional yang memacu adrenalin.

Kapal Phinisi

Bugis — Bulukumba
  • Dua tiang utama dengan tujuh helai layar
  • Dibangun tanpa paku menggunakan sistem pasak kayu
  • Diakui UNESCO sebagai warisan budaya takbenda (2017)
  • Mampu menempuh pelayaran lintas samudra
  • Proses pembangunan diiringi ritual dan doa
  • Digunakan untuk niaga, ekspedisi, dan wisata bahari

Perahu Sandeq

Mandar — Sulawesi Barat pesisir
  • Perahu cadik ringan dengan satu layar segi tiga
  • Dikenal sebagai perahu tercepat di Nusantara
  • Digunakan untuk menangkap ikan di laut terbuka
  • Menjadi ikon budaya bahari masyarakat Mandar
  • Festival Sandeq Race digelar tahunan sebagai tradisi
  • Lambang kebebasan dan keberanian jiwa pelaut

Warisan yang Terancam, Upaya yang Tak Boleh Berhenti

Meski Phinisi telah mendapat pengakuan UNESCO dan Sandeq terus dirayakan dalam festival tahunan, keduanya menghadapi ancaman yang sama: berkurangnya jumlah pengrajin dan nelayan yang memiliki pengetahuan tradisional untuk membangun dan mengemudikan perahu-perahu ini secara autentik.

Kapal Phinisi modern yang banyak beroperasi sebagai kapal wisata memang masih menggunakan nama yang sama, namun sebagian besar sudah dilengkapi mesin diesel dan memiliki desain yang jauh dari tradisi asli. Pengetahuan tentang teknik pasak tanpa paku, ritual pembangunan, dan pemilihan kayu berdasarkan kalender tradisional perlahan memudar.

Di sinilah program dokumentasi dan pendidikan budaya yang diusung LAPAKKSS menjadi sangat relevan. Mendokumentasikan pengetahuan para ahli Phinisi tua di Bulukumba, merekam teknik pembuatan Sandeq dari maestro Mandar, dan memperkenalkan warisan bahari ini kepada generasi muda adalah langkah konkret yang tidak bisa ditunda.

Jejak Perjalanan: Dari Bulukumba ke Dunia

Abad ke-14

Tradisi pembuatan Kapal Phinisi mulai berkembang di pesisir Bugis, Sulawesi Selatan. Phinisi menjadi tulang punggung armada niaga dan ekspedisi Nusantara.

1986

Phinisi “Nusantara” berlayar dari Indonesia ke Vancouver, Kanada, menempuh jarak 24.000 kilometer — membuktikan ketangguhan desain tradisional ini di lautan internasional.

2003

Festival Sandeq Race pertama digelar secara besar-besaran, menarik perhatian media internasional dan memperkuat posisi Sandeq sebagai warisan budaya bahari yang hidup.

7 Desember 2017

UNESCO resmi mencatatkan Seni Pembuatan Kapal Phinisi sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan — tonggak pengakuan dunia atas kejeniusan bahari masyarakat Bugis.

2023–2026

Universitas Hasanuddin menjadikan “Budaya Bahari Sulawesi Selatan” sebagai tema utama International Cultural Program (ICP), mengundang akademisi dan mahasiswa dari berbagai negara untuk mendalami warisan maritim Sulsel.

“Selama Phinisi masih dibangun dan Sandeq masih berlayar, selama itu pula jiwa pelaut Sulawesi Selatan tetap hidup — menantang cakrawala, seperti yang selalu dilakukan leluhur kita.”

Menjaga Api Tetap Menyala

Phinisi dan Sandeq mengajarkan kita bahwa keunggulan tidak selalu lahir dari teknologi terbaru. Kadang, yang paling canggih justru adalah pengetahuan yang diwariskan dengan penuh cinta dari satu generasi ke generasi berikutnya — pengetahuan yang tidak tersimpan dalam buku, melainkan dalam tangan, dalam ingatan, dan dalam jiwa.

Melestarikan warisan bahari Sulawesi Selatan bukan berarti membekukan masa lalu. Ini berarti memastikan bahwa kecerdasan leluhur kita terus menjadi cahaya yang menerangi jalan generasi yang akan datang. LAPAKKSS percaya bahwa tugas itulah yang paling mulia untuk dikerjakan bersama.

Sumber Referensi

  • UNESCO Intangible Cultural Heritage — Pinisi Boatbuilding Art (2017)
  • Gramedia Literasi — Warisan Budaya Indonesia yang Diakui UNESCO
  • Detik — Daftar 15 Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang Diakui UNESCO 2008–2024
  • DJKN Kemenkeu Parepare — Menarik Makna Kesenian dan Kebudayaan di Sulawesi Selatan
  • Universitas Hasanuddin — International Cultural Program (ICP) 2023–2026
  • Disbudpar Sulawesi Selatan — Kesenian dan Kebudayaan Sulawesi Selatan

Komentar (0)

Budaya 30 April 2026 • LAPAKBUDAYA Redaksi

Setiap gerakan adalah kata. Setiap langkah adalah kalimat. Tari tradisional Sulawesi Selatan bukan sekadar pertunjukan estetika — ia adalah teks budaya yang ditulis dengan tubuh, merekam sejarah, kepercayaan, dan nilai-nilai luhur empat suku besar yang hidup berdampingan di tanah ini.

Tubuh Sebagai Arsip Budaya

Jauh sebelum aksara dikenal luas, masyarakat Sulawesi Selatan telah menyimpan pengetahuan dan nilai-nilai luhur mereka dalam gerak tari. Setiap tarian memiliki konteks: ada yang lahir dari upacara kematian, ada yang menyambut panen, ada pula yang diciptakan untuk memuliakan tamu agung seorang raja. Memahami tari tradisional Sulsel berarti membaca lapisan-lapisan peradaban yang tersembunyi di balik setiap gerakan.

Hari ini, tarian-tarian itu menghadapi tantangan besar: penarinya semakin sedikit, pewarisnya tidak banyak yang mau belajar, dan panggung pertunjukannya makin sempit. Di sinilah lembaga seperti LAPAKKSS mengambil peran — memastikan teks-teks budaya yang tersimpan dalam gerak itu tidak ikut terkubur bersama para maestronya.

4 suku besar dengan tradisi tari yang berbeda
2017 tahun Tari Pakarena diakui sebagai warisan budaya takbenda
12 gerakan dalam Tari Pa’gellu yang melambangkan fase kehidupan

Empat Tarian, Empat Jiwa

Makassar

Tari Pakarena

Kerajaan Gowa — Sulawesi Selatan Bagian Barat

Tari Pakarena adalah mahkota tari Makassar. Lahir dari tradisi Kerajaan Gowa pada masa Kerajaan Gantarang, tarian ini menampilkan gerakan kipas yang halus, mengalir, dan penuh keanggunan — mencerminkan karakter perempuan Makassar yang kuat namun tetap lembut. Diiringi tabuhan gandrang dan tiupan pui-pui, setiap gerakan Pakarena menyimpan makna filosofis tentang hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Pengakuan nasional atas Tari Pakarena sebagai Warisan Budaya Takbenda menegaskan posisi tarian ini sebagai salah satu puncak pencapaian estetika Nusantara.

Toraja

Tari Pa’gellu

Tana Toraja — Sulawesi Selatan Bagian Utara

Berbeda dari Pakarena yang penuh ketenangan, Tari Pa’gellu memancarkan sukacita. Dibawakan oleh sembilan penari perempuan, tarian ini menampilkan 12 gerakan yang melambangkan dua belas tahap perjalanan hidup manusia menurut kepercayaan Aluk To Dolo — dari kelahiran hingga memasuki alam keabadian. Pa’gellu biasanya ditampilkan dalam upacara adat dan perayaan kemenangan, menjadi ekspresi rasa syukur masyarakat Toraja atas anugerah kehidupan yang diterima.

Toraja

Tari Ma’badong

Tana Toraja — Upacara Rambu Solo’

Jika Pa’gellu adalah tarian sukacita, Ma’badong adalah tarian duka yang penuh keagungan. Dibawakan dalam upacara pemakaman Rambu Solo’, para penari membentuk lingkaran sambil bergandengan tangan dan menyanyikan syair ratapan yang mengiringi kepergian sang mendiang. Ma’badong bukan sekadar ekspresi kesedihan — ia adalah ritual pengantaran jiwa, sebuah doa kolektif yang dipanjatkan lewat gerak dan suara. Upacara Rambu Solo’ sendiri bisa berlangsung tiga hingga sepuluh hari dan dianggap sebagai salah satu upacara adat terbesar dan termegah di Asia Tenggara.

Bugis

Tari Padduppa

Bugis — Berbagai Kabupaten Sulawesi Selatan

Dalam tradisi Bugis, tamu adalah anugerah. Tari Padduppa — tari penyambutan — adalah wujud nyata dari nilai keramahtamahan (sipakatau) yang menjadi inti etika sosial Bugis. Dibawakan oleh penari perempuan yang membawa bosara (wadah makanan tradisional) berisi bunga dan beras kuning sebagai simbol kemakmuran, Padduppa menyampaikan pesan bahwa setiap tamu adalah raja yang layak dihormati sepenuh hati.

Multi-Etnis

Tari Empat Etnis

Sulawesi Selatan — Simbol Persatuan Budaya

Tari Empat Etnis adalah karya kolaborasi yang menampilkan unsur gerak dari keempat suku besar Sulawesi Selatan: Makassar, Bugis, Toraja, dan Mandar dalam satu panggung. Tarian ini lahir dari semangat bahwa keberagaman bukan hambatan, melainkan kekuatan. Setiap penari mewakili suku dan tradisinya masing-masing, namun bergerak dalam harmoni yang indah — metafora sempurna dari Sulawesi Selatan sebagai rumah bagi berbagai peradaban yang saling menghormati.

“Tari bukan sekadar hiburan. Ia adalah kamus kebudayaan yang dibacakan dengan tubuh. Ketika sebuah tarian hilang, bab penting dari sejarah kita ikut terhapus bersamanya.”

Tantangan Regenerasi Penari

Data dari berbagai survei budaya menunjukkan bahwa jumlah penari tradisional aktif terus menyusut dari generasi ke generasi. Faktor penyebabnya beragam: waktu latihan yang panjang, minimnya dukungan finansial bagi penari muda, serta persaingan dengan bentuk-bentuk hiburan modern yang lebih mudah diakses.

Namun ada secercah harapan. Program edukasi budaya yang digagas LAPAKKSS dan beberapa lembaga seni daerah mulai menunjukkan hasil. Kelas tari tradisional yang semula hanya diikuti segelintir murid kini perlahan menarik lebih banyak peminat — terutama setelah video-video tari tradisional Sulsel mulai viral di media sosial dan menarik perhatian generasi muda yang sebelumnya tidak mengenal warisan budayanya sendiri.

Upaya Pelestarian Tari Tradisional Sulsel

LAPAKKSS bersama komunitas seni dan Dinas Kebudayaan Provinsi Sulawesi Selatan terus mendorong program dokumentasi video tari tradisional, kelas tari rutin di sekolah-sekolah, serta penampilan reguler di festival budaya untuk memastikan generasi muda tetap memiliki akses terhadap warisan gerak leluhur mereka.

Menonton Bukan Sekadar Menonton

Setiap kali kita menyaksikan Tari Pakarena, kita sedang membaca ribuan tahun sejarah Kerajaan Gowa. Setiap kali kita menyaksikan Pa’gellu, kita sedang mendengar filosofi hidup orang Toraja yang percaya bahwa kehidupan adalah perjalanan yang harus dirayakan. Setiap kali kita menyaksikan Padduppa, kita sedang belajar tentang keramahtamahan sebagai nilai luhur yang diwariskan turun-temurun.

Tari tradisional Sulawesi Selatan mengundang kita bukan hanya untuk menonton, tetapi untuk memahami — dan dengan memahami, kita menjadi bagian dari rantai panjang pewarisan yang memastikan cahaya budaya ini tidak padam.

Sumber Referensi

  • Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan — disbudpar.sulselprov.go.id
  • Explore Makassar — Mengenal Keberagaman Kota Makassar Melalui Seni Tari
  • Asuransi Sinar Mas — Ragam Tarian Tradisional Sulawesi Selatan
  • Ruang.co.id — Mengenal Kesenian Tradisional Daerah Sulawesi Selatan
  • SeniBudayaku.com — Kebudayaan Sulawesi Selatan Lengkap
  • Pedoman Rakyat — Interaksi Budaya LAPAKKSS (2023)

Komentar (0)

Budaya 30 April 2026 • LAPAKBUDAYA Redaksi

Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan gaya hidup generasi muda, warisan seni budaya Sulawesi Selatan terus berjuang untuk tetap hidup dan relevan. LAPAKKSS — Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Sulawesi Selatan — hadir sebagai salah satu ujung tombak pelestarian itu: membangun jembatan antara leluhur dan generasi penerus.

Sulawesi Selatan: Rumah Bagi Empat Peradaban Besar

Sulawesi Selatan bukan sekadar wilayah administratif. Ia adalah pertemuan empat peradaban besar Nusantara yang masing-masing memiliki bahasa, tradisi, seni, dan kosmologi tersendiri: Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar. Keempat suku ini menempati wilayah yang berbeda — dari dataran tinggi Tana Toraja hingga pesisir barat Mandar — namun bertumbuh dalam satu ekosistem budaya yang saling memengaruhi.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa tradisi-tradisi ini bukan warisan kemarin sore. Kapal Phinisi Bugis, misalnya, telah berlayar mengarungi lautan Nusantara sejak abad ke-14, jauh sebelum bangsa Eropa mengenal jalur rempah Maluku. Pada 7 Desember 2017, UNESCO secara resmi mengakui Seni Pembuatan Kapal Phinisi sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan — sebuah pengakuan yang menggemakan kejayaan maritim leluhur Bugis ke panggung dunia.

“Warisan budaya bukan beban masa lalu. Ia adalah modal utama kita menghadapi masa depan — identitas yang membedakan kita di tengah keseragaman global.” — Perspektif Kongres Kebudayaan Sulawesi Selatan 2023

Kekayaan yang Tak Ternilai: Seni Empat Suku

Masing-masing suku menyumbang kekayaan seni yang unik dan tak tergantikan. Berikut gambaran singkat warisan budaya yang terus dijaga:

Bugis

  • Sureq Galigo — epik sastra terpanjang di dunia, mengisahkan asal-usul alam semesta dan peradaban Bugis
  • Tari Padduppa — tari penyambutan tamu agung
  • Mappadendang — ritual syukur panen dengan tabuhan lesung berirama
  • Lipa’ Sabbe — kain sutera Bugis dengan motif geometris khas

Makassar

  • Tari Pakarena — tari kipas ikonik dari Kerajaan Gowa, diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda
  • Ganrang Bulo — kesenian musik dan gerak dari bambu
  • Songkok Recca — kopiah anyaman pandan khas Makassar
  • Tradisi Siri’ — sistem nilai kehormatan yang menjadi fondasi etika sosial

Toraja

  • Tongkonan — rumah adat dengan atap melengkung, simbol kosmologi dan status sosial
  • Tari Pa’gellu — tarian sukacita yang menampilkan 12 gerakan filosofis
  • Rambu Solo’ — upacara pemakaman sakral yang bisa berlangsung hingga 10 hari
  • Ukiran Passura — seni ukir kayu penuh simbol leluhur

Mandar

  • Perahu Sandeq — perahu cadik tercepat Nusantara, ikon bahari Mandar
  • Sayang-Sayang — tradisi sastra lisan berpantun sebagai media ekspresi dan kritik sosial
  • Tenun Mandar — kain tenun sutera dengan motif berbeda dari Bugis, dirajut tangan hingga kini
  • Ritual Bahari — mantra dan kearifan lokal komunitas pesisir Mandar
— • —

LAPAKKSS: Dari Panggung ke Masyarakat

Di sinilah peran LAPAKKSS menjadi krusial. Sebagai lembaga non-pemerintah yang berdedikasi pada pengembangan kesenian dan kebudayaan Sulawesi Selatan, LAPAKKSS bergerak melampaui sekadar pertunjukan. Ia membangun ekosistem: menghubungkan seniman senior dengan generasi muda, mengarsipkan tradisi lisan yang terancam punah, dan mempromosikan budaya Sulsel ke pentas nasional maupun internasional.

Salah satu program andalan LAPAKKSS adalah Interaksi Budaya — sebuah dialog budaya tahunan yang mempertemukan maestro seni senior dengan seniman dan budayawan muda. Dalam program ini, pertunjukan kesenian bukan sekadar tontonan, melainkan medium transfer pengetahuan antargenerasi. Acara Interaksi Budaya ke-6 yang digelar pada Desember 2022 di Baruga Benteng Somba Opu, Makassar, menjadi salah satu bukti komitmen lembaga ini dalam menjaga mata rantai tradisi yang tidak boleh putus.

Momentum Pengakuan: 2023 dan Seterusnya

Tahun 2023 menjadi tahun yang bermakna bagi pelestarian budaya Sulawesi Selatan. Pada 25 Oktober 2023, pemerintah pusat menyerahkan sertifikat Warisan Budaya Takbenda Nasional kepada tiga tradisi dari Sulawesi Selatan:

Tiga Warisan Budaya Takbenda Sulsel yang Tersertifikasi Nasional (2023)

  • Lawa Bale — tradisi budaya dari Kabupaten Wajo
  • Mattojang Paccekke — festival pasca-panen tradisional dari Kabupaten Barru
  • Pajaga Welado — pertunjukan tari laki-laki dari Kabupaten Bone

Pengakuan ini bukan akhir dari perjalanan. Justru sebaliknya — ini adalah panggilan untuk bekerja lebih keras. Masih banyak tradisi, tarian, nyanyian, dan ritual di pelosok Sulawesi Selatan yang belum terdokumentasi, belum dikenal generasi muda, dan berisiko hilang seiring wafatnya para maestro yang menjadi penjaganya.

Di level akademik, Universitas Hasanuddin melalui program International Cultural Program (ICP) telah menjadikan budaya bahari Sulawesi Selatan sebagai tema unggulan dari tahun 2023 hingga 2026 — mengundang mahasiswa internasional untuk merasakan langsung kekayaan budaya pesisir di komunitas-komunitas Takalar dan sekitarnya.

Merawat Budaya di Era Digital

Tantangan pelestarian budaya di era digital bukan sekadar soal regenerasi. Ini juga soal narasi. Ketika algoritma media sosial lebih memihak konten hiburan instan, bagaimana warisan seperti Sureq Galigo — yang panjang naskahnya melebihi Mahabharata — bisa menemukan audiensnya?

LAPAKKSS melalui platform digital LAPAKBUDAYA menjawab tantangan ini dengan pendekatan yang merakyat: menghadirkan konten budaya dalam format yang dapat dinikmati semua kalangan, dari kajian akademis mendalam hingga cerita-cerita pendek yang bisa dibaca di perjalanan. Tidak ada budaya yang “terlalu tradisional” untuk hadir di era modern — yang dibutuhkan hanya cara bercerita yang tepat.

“Anak muda Sulawesi Selatan tidak anti budaya — mereka hanya menunggu diajak masuk dengan bahasa yang mereka pahami.”

Penutup: Warisan Ini Milik Kita Semua

Seni ukir Toraja yang menghiasi tongkonan, dentum gandrang Makassar di malam festival, desir layar Sandeq di lepas pantai Mandar, dan lantunan pappaseng Bugis yang sarat kebijaksanaan — semua ini bukan sekadar objek museum atau bahan pelajaran sejarah. Ini adalah identitas hidup yang terus bernapas, terus berkembang, dan terus membutuhkan tangan-tangan yang mau merawatnya.

LAPAKKSS percaya bahwa pelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama — bukan hanya urusan seniman, akademisi, atau pemerintah. Setiap warga Sulawesi Selatan, di manapun berada, adalah bagian dari rantai panjang pewarisan ini.

Budaya kita. Tanggung jawab kita.

Sumber Referensi

  • Disbudpar Sulawesi Selatan — disbudpar.sulselprov.go.id
  • Pedoman Rakyat — Interaksi Budaya LAPAKKSS (Januari 2023)
  • UNESCO — Intangible Cultural Heritage: Pinisi Boatbuilding Art (2017)
  • Kongres Kebudayaan Sulawesi Selatan 2023, diselenggarakan bersama FIB Universitas Hasanuddin
  • Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel — Sertifikasi Warisan Budaya Takbenda 25 Oktober 2023
  • DJKN Kemenkeu — Kesenian dan Kebudayaan Sulawesi Selatan
  • Universitas Hasanuddin — International Cultural Program (ICP) 2023–2026

Komentar (0)


Resmi • 2026–2030

Struktur Organisasi
LAPAKKSS 2026–2030

Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Sulawesi Selatan — Kepengurusan Periode Baru

Berita • Organisasi
Periode 2026–2030
Berdasarkan hasil musyawarah mufakat, telah ditetapkan komposisi kepengurusan baru Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Sulawesi Selatan (LAPAKKSS) untuk periode 2026–2030. Kepengurusan ini terdiri dari Dewan Pakar dan Pengurus Harian (Eksekutif) yang siap menggerakkan ekosistem seni budaya Sulawesi Selatan menuju cakupan yang lebih luas.
Dewan Pakar
Struktur Dewan Pakar

Dewan Pakar — LAPAKKSS 2026–2030

Y
Ketua Dewan Pakar
Ketua
A
Dr. H. Ajiep Padindang, SE., MM.
Anggota Dewan Pakar
Anggota
N
Dr. Nurlina Syahrir, M.Hum.
Anggota Dewan Pakar
Anggota
A
Andi Abubakar Hamid
Anggota Dewan Pakar
Anggota
I
Idwar Anwar
Anggota Dewan Pakar
Anggota
Pengurus Harian
Eksekutif Pengurus Harian

Pengurus Harian (Eksekutif) — LAPAKKSS 2026–2030

L
Direktur Eksekutif
Direktur
M
Dr. M. Husni
Wakil Direktur
Wakil Direktur
R
Rachim Kallo
Sekretaris
Sekretaris
S
Syahril Rani
Wakil Sekretaris
Wakil Sekretaris
I
Ima Khalid
Bendahara
Bendahara

Kepengurusan LAPAKKSS 2026–2030 berkomitmen untuk memperkuat ekosistem seni dan budaya Sulawesi Selatan melalui program-program yang inklusif, berkelanjutan, dan relevan bagi seluruh lapisan masyarakat — dari seniman kampung hingga panggung internasional.

Komentar (0)

Bergabung