Budaya 30 April 2026 • LAPAKBUDAYA Redaksi

Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan gaya hidup generasi muda, warisan seni budaya Sulawesi Selatan terus berjuang untuk tetap hidup dan relevan. LAPAKKSS — Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Sulawesi Selatan — hadir sebagai salah satu ujung tombak pelestarian itu: membangun jembatan antara leluhur dan generasi penerus.

Sulawesi Selatan: Rumah Bagi Empat Peradaban Besar

Sulawesi Selatan bukan sekadar wilayah administratif. Ia adalah pertemuan empat peradaban besar Nusantara yang masing-masing memiliki bahasa, tradisi, seni, dan kosmologi tersendiri: Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar. Keempat suku ini menempati wilayah yang berbeda — dari dataran tinggi Tana Toraja hingga pesisir barat Mandar — namun bertumbuh dalam satu ekosistem budaya yang saling memengaruhi.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa tradisi-tradisi ini bukan warisan kemarin sore. Kapal Phinisi Bugis, misalnya, telah berlayar mengarungi lautan Nusantara sejak abad ke-14, jauh sebelum bangsa Eropa mengenal jalur rempah Maluku. Pada 7 Desember 2017, UNESCO secara resmi mengakui Seni Pembuatan Kapal Phinisi sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan — sebuah pengakuan yang menggemakan kejayaan maritim leluhur Bugis ke panggung dunia.

“Warisan budaya bukan beban masa lalu. Ia adalah modal utama kita menghadapi masa depan — identitas yang membedakan kita di tengah keseragaman global.” — Perspektif Kongres Kebudayaan Sulawesi Selatan 2023

Kekayaan yang Tak Ternilai: Seni Empat Suku

Masing-masing suku menyumbang kekayaan seni yang unik dan tak tergantikan. Berikut gambaran singkat warisan budaya yang terus dijaga:

Bugis

  • Sureq Galigo — epik sastra terpanjang di dunia, mengisahkan asal-usul alam semesta dan peradaban Bugis
  • Tari Padduppa — tari penyambutan tamu agung
  • Mappadendang — ritual syukur panen dengan tabuhan lesung berirama
  • Lipa’ Sabbe — kain sutera Bugis dengan motif geometris khas

Makassar

  • Tari Pakarena — tari kipas ikonik dari Kerajaan Gowa, diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda
  • Ganrang Bulo — kesenian musik dan gerak dari bambu
  • Songkok Recca — kopiah anyaman pandan khas Makassar
  • Tradisi Siri’ — sistem nilai kehormatan yang menjadi fondasi etika sosial

Toraja

  • Tongkonan — rumah adat dengan atap melengkung, simbol kosmologi dan status sosial
  • Tari Pa’gellu — tarian sukacita yang menampilkan 12 gerakan filosofis
  • Rambu Solo’ — upacara pemakaman sakral yang bisa berlangsung hingga 10 hari
  • Ukiran Passura — seni ukir kayu penuh simbol leluhur

Mandar

  • Perahu Sandeq — perahu cadik tercepat Nusantara, ikon bahari Mandar
  • Sayang-Sayang — tradisi sastra lisan berpantun sebagai media ekspresi dan kritik sosial
  • Tenun Mandar — kain tenun sutera dengan motif berbeda dari Bugis, dirajut tangan hingga kini
  • Ritual Bahari — mantra dan kearifan lokal komunitas pesisir Mandar
— • —

LAPAKKSS: Dari Panggung ke Masyarakat

Di sinilah peran LAPAKKSS menjadi krusial. Sebagai lembaga non-pemerintah yang berdedikasi pada pengembangan kesenian dan kebudayaan Sulawesi Selatan, LAPAKKSS bergerak melampaui sekadar pertunjukan. Ia membangun ekosistem: menghubungkan seniman senior dengan generasi muda, mengarsipkan tradisi lisan yang terancam punah, dan mempromosikan budaya Sulsel ke pentas nasional maupun internasional.

Salah satu program andalan LAPAKKSS adalah Interaksi Budaya — sebuah dialog budaya tahunan yang mempertemukan maestro seni senior dengan seniman dan budayawan muda. Dalam program ini, pertunjukan kesenian bukan sekadar tontonan, melainkan medium transfer pengetahuan antargenerasi. Acara Interaksi Budaya ke-6 yang digelar pada Desember 2022 di Baruga Benteng Somba Opu, Makassar, menjadi salah satu bukti komitmen lembaga ini dalam menjaga mata rantai tradisi yang tidak boleh putus.

Momentum Pengakuan: 2023 dan Seterusnya

Tahun 2023 menjadi tahun yang bermakna bagi pelestarian budaya Sulawesi Selatan. Pada 25 Oktober 2023, pemerintah pusat menyerahkan sertifikat Warisan Budaya Takbenda Nasional kepada tiga tradisi dari Sulawesi Selatan:

Tiga Warisan Budaya Takbenda Sulsel yang Tersertifikasi Nasional (2023)

  • Lawa Bale — tradisi budaya dari Kabupaten Wajo
  • Mattojang Paccekke — festival pasca-panen tradisional dari Kabupaten Barru
  • Pajaga Welado — pertunjukan tari laki-laki dari Kabupaten Bone

Pengakuan ini bukan akhir dari perjalanan. Justru sebaliknya — ini adalah panggilan untuk bekerja lebih keras. Masih banyak tradisi, tarian, nyanyian, dan ritual di pelosok Sulawesi Selatan yang belum terdokumentasi, belum dikenal generasi muda, dan berisiko hilang seiring wafatnya para maestro yang menjadi penjaganya.

Di level akademik, Universitas Hasanuddin melalui program International Cultural Program (ICP) telah menjadikan budaya bahari Sulawesi Selatan sebagai tema unggulan dari tahun 2023 hingga 2026 — mengundang mahasiswa internasional untuk merasakan langsung kekayaan budaya pesisir di komunitas-komunitas Takalar dan sekitarnya.

Merawat Budaya di Era Digital

Tantangan pelestarian budaya di era digital bukan sekadar soal regenerasi. Ini juga soal narasi. Ketika algoritma media sosial lebih memihak konten hiburan instan, bagaimana warisan seperti Sureq Galigo — yang panjang naskahnya melebihi Mahabharata — bisa menemukan audiensnya?

LAPAKKSS melalui platform digital LAPAKBUDAYA menjawab tantangan ini dengan pendekatan yang merakyat: menghadirkan konten budaya dalam format yang dapat dinikmati semua kalangan, dari kajian akademis mendalam hingga cerita-cerita pendek yang bisa dibaca di perjalanan. Tidak ada budaya yang “terlalu tradisional” untuk hadir di era modern — yang dibutuhkan hanya cara bercerita yang tepat.

“Anak muda Sulawesi Selatan tidak anti budaya — mereka hanya menunggu diajak masuk dengan bahasa yang mereka pahami.”

Penutup: Warisan Ini Milik Kita Semua

Seni ukir Toraja yang menghiasi tongkonan, dentum gandrang Makassar di malam festival, desir layar Sandeq di lepas pantai Mandar, dan lantunan pappaseng Bugis yang sarat kebijaksanaan — semua ini bukan sekadar objek museum atau bahan pelajaran sejarah. Ini adalah identitas hidup yang terus bernapas, terus berkembang, dan terus membutuhkan tangan-tangan yang mau merawatnya.

LAPAKKSS percaya bahwa pelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama — bukan hanya urusan seniman, akademisi, atau pemerintah. Setiap warga Sulawesi Selatan, di manapun berada, adalah bagian dari rantai panjang pewarisan ini.

Budaya kita. Tanggung jawab kita.

Sumber Referensi

  • Disbudpar Sulawesi Selatan — disbudpar.sulselprov.go.id
  • Pedoman Rakyat — Interaksi Budaya LAPAKKSS (Januari 2023)
  • UNESCO — Intangible Cultural Heritage: Pinisi Boatbuilding Art (2017)
  • Kongres Kebudayaan Sulawesi Selatan 2023, diselenggarakan bersama FIB Universitas Hasanuddin
  • Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel — Sertifikasi Warisan Budaya Takbenda 25 Oktober 2023
  • DJKN Kemenkeu — Kesenian dan Kebudayaan Sulawesi Selatan
  • Universitas Hasanuddin — International Cultural Program (ICP) 2023–2026